Earth Hour ‘08, Pentingkah?

Rata-rata orang Amerika memproduksi sekitar 20 ton gas rumahkaca karbon dioksida (CO2) tiap tahunnya. Sepertinya banyak -dan Amerika memang adalah produsen karbon terbesar di dunia- tapi dunia sendiri memproduksi 27 miliar ton karbon dioksida tiap tahunnya, karena kendaraan bermotor, pemakaian listrik, penebangan liar. Renungkan angka itu, dan kau akan sadar sangat sedikit yang dapat kita lakukan sendiri untuk menghentikan perubahan iklim atau climate change.

Hiduplah seperti seorang biksu, bawalah beban 20 tonmu -dan jika ingin, jangan bernafas-. Kau akan mati.

Meskipun hanya satu jam pada malam Minggu, Carter Roberts berpendapat bahwa dengan mematikan lampu, dan meningkatkan kesadaran global, ‘Jam Bumi’ atau ‘Earth Hour’ dapat mencegah krisis pemanasan global.

Dimulai jam 8 malam hari Sabtu, 29 Maret di Christchurch, Selandia Baru, semua orang di seluruh dunia matikan semua lampu mereka selama satu jam, untuk menyadarkan bahwa ada hubungan antara pemakaian energi dan perubahan iklim.

Dari Selandia Baru, peristiwa itu diikuti oleh belahan dunia lain mengikuti arah terbenamnya matahari ke barat. Australia, Manila, dilanjutkan ke Dubai, lalu ke Eropa, Dublin, New York, Chicago, dan San Francisco sebagai penutup, dimana Bay Bridge dan Golden Gate Bridge berubah hitam kelam selama satu jam. Carter Roberts, ketua World Wildlife Fund (WWF), yang mensponsori Earth Hour, mengatakan bahwa peristiwa global itu dibuat untuk “membuat sebuah pernyataan tentang komitmen kami untuk memecahkan masalah climate change dan sebagai simbol komitmen yang akan semua orang buat tahun ini.”

Earth Hour juga unik di mata beberapa orang. Para servers -atau waiters- memakai kalung glow-in-the-dark (menyala dalam gelap) saat melayani pelanggannya di bar-bar dan restoran di Phoenix, Arizona. Rumah yoga di Michigan berlatih yoga di sekitar lampu-lampu penerangan jalan, dan Sheraton Hotel Chicago menawarkan check-in dengan cahaya lilin.

WWF memperkirakan bahwa ada puluhan juta orang di seluruh dunia yang ikut berpartisipasi dalam Earth Hour ini. Melihat lampu-lampu di pusat-pusat kota metropolitan mati memang terlihat menakjubkan, tapi timbul satu pertanyaan: Apa maksudnya? Roberts sendiri mengatakan, energi yang dihemat dengan cara mematikan lampu untuk satu jam “tak akan membuat perubahan besar.”

Jadi, jika tak mengurangi emisi karbon, kenapa mesti diadakan Earth Hour, atau Earth Day, atau Earth Live, konser sehari yang diadakan tahun kemarin yang didedikasikan untuk lingkungan?

Karena perubahan iklim pada dasarnya adalah masalah politik, dan bahasa politik adalah simbolis. Hanya karena event itu simbolis bukan berarti menjadi tak bermakna. Satu-satunya cara untuk benar-benar mengurangi emisi gas rumahkaca, dan untuk menjadi tidak takut pada efek pemanasan global, adalah dengan membuat sebuah organisasi internasional yang dapat “bertanggung jawab” akan polusi iklim. Dan satu-satunya cara untuk merealisasikannya adalah dengan menyadarkan para pejabat dan politisi tingkat dunia bahwa perubahan iklim adalah dilema yang ditanggung oleh semua orang, satu hal yang dapat merubah cara hidup mereka. “Tak seperti kebanyakan masalah yang kita geluti, perubahan iklim bersifat global,” ungkap Roberts. “Tanggung jawab kita adalah melakukan hal yang benar.” Jika dengan mematikan lampu satu jam dan dengan berlatih yoga dalam gelap dapat memberikan dukungan politik, mungkin Earth Hour dapat memberi dampak yang besar.

Gerakan pro-lingkungan sudah hampir mencapai momen puncaknya. Kita sudah dapat melewati saat dimana hijau adalah bijak, saat dimana dengan hanya melakukan sedikit untuk menyelamatkan Bumi patut mendapat acungan dua jempol. Kita sadar akan keberadaan pemanasan global dengan fakta-faktanya yang memilukan, tapi kita juga tahu bahwa dengan solusi-solusi yang diarahkan untuk kita -seperti change a light bulb, change your life- hanya berdampak sangat kecil untuk masalah yang sangat besar. Kita bahkan sudah bosan dengan semua itu, karena memang kita bisa apa lagi? Tapi inilah saat dimana kita harus tetap maju dengan cara apapun yang kita bisa. Teknologi yang dapat membantu sudah dikembangkan, tapi semuanya butuh dorongan -dan semua itu hanya akan terus terjadi jika kita tetap memprioritaskan perubahan iklim di puncak agenda politik kita.

Earth Hour, Earth Day, Earth Year — kita akan butuh semua itu.

(This article is translated from the Time Magazine article, “Earth Hour ‘08: Did It Matter?” by Bryan Walsh, which was released on Thursday, March 27, 2008. Translation by aquamocchi. Copyright@2008 Time Magazine. All Rights Reserved)

~ by blubchoc on April 1, 2008.

Leave a Reply